Sabtu, 02 Juni 2018

Luapan Kisah


Coral
By : Wahyu Widya Lestari

 
Seems strong from the outside
But,
not from the inside…

For those who needs it,
It can be precious…
It also can be useless,
For those who doesn’t know it…

Coral…
Known as a strong one,
But in fact,
Water can erosive it…

Strong outside…
Weak inside…
It’s coral…
It’s me…

Senin, 07 Mei 2018

Article that Contain Idiomatic Expression



Nama         : Wahyu Widya Lestari
NPM           : 1C614162
Kelas           : 4SA01

Translating Article with Idiomatic Expressions


   1.    The Original Text

”Understanding the Future Through Cinema”
Source : http://www.thejakartapost.com/life/2018/04/13/understanding-the-future-through-cinema.html

The recently released movie Ready Player One has been selling out theaters all over the world. The movie predicts a near future in which everyone has left reality and escaped into a world of virtual reality. Much of the film’s popularity can be credited to the long history of humans trying to predict the future.

 The more creative individuals of our society have historically led the way in making these predictions. On a narrow scope, writers and painters have created their own worlds, building a reality that may or may not have any tethers to our own. This is where the likes of Star Wars, Star Trek, Lord of The Rings and Dune come in. Other artists have attempted to tackle the problem on a much wider and more realistic scope, pondering what the human species might look like 10 or 20 years into the future.

Many media platforms have been used to imagine what the future could look like. A Fast Company article from 2012 highlighted how French postcards from 1910 accurately predicted the technology found in 2000. George Orwell's classic novel 1984 inspired millions to be more wary of Big Brother. The TV series The Simpsons has long made satirical predictions that have bizarrely come true. But of all the media platforms used to predict the future, none have been so popular nor widely used as cinema.

Paintings and books that predict the future leav­­e much to the imagination. Books provide a literary explanation of events, but no images to visually back them up. Paintings provide a visual account of events, but leave many questioning "what happens after?".

Cinema invades the mind of its audience, providing a visual illustration of what the future might look like, leaving little to the imagination. Stories are rarely those of a single individual, but rather stories of a society and the world they currently live in. These provide a perspective not only into the lives of the heroes, but also about the people surrounding them.

So how exactly do movies "predict" the future? There have been many narratives circling in pop culture, ranging from technological utopias, barren wastelands, to futures not much different from our present. 

Animated movies are usually the main drivers behind the predictions of a positive future. Meet the Robinsons, Big Hero 6 and Astro Boy provide visions of a future that is a mix of technological utopia and colorful megacities. Time machines, tubular transportation and huge squishy walking hospitals are no doubt technological advancements that everyone wants, a result of an admittedly optimistic view of the future.

On the other side of the spectrum, we have movies that project a grittier picture of the future. These movies usually revolve around the rise of sentient technology, starvation, or the demise of the human species. Some notable members of this group are Blade Runner, the Mad Max franchise, 2001: A Space Odyssey and Interstellar. The worlds these movies build are often filled to the brim with crime and poverty. Interstellar and Mad Max base their stories on food scarcity, while Blade Runner and 2001: A Space Odyssey focus on the rise of artificial intelligence. It’s also interesting to note we have the outliers like Wall-E, which predicts the demise of the human race and the dominance of sentient robots, yet packages it in a kid-friendly manner.

Nearing the middle of the spectrum, we have the realistic predictions. These are the movies that are neither extremely optimistic nor pessimistic, focusing more on how far our society has progressed and what lies one or two steps ahead. 

But this last group is probably the most interesting group of films among the others. These movies cause the most fear and hope, due to their premises being mostly based on reality and pre-existing technology. Look no further than Spike Jonze's Her for an example. Her chronicles a love story between a lonely man and his virtual assistant. At the time, Siri had only been out for three years, while Alexa and Google Assistant weren't even in existence yet. Ar the time, Her seemed to be a bit unimaginable. But now? The trio of smart assistants have taken the world by storm, and we rely on them for more day-to-day tasks. We have come closer and closer to the reality of Her.

So what should we do with these predictions? Well, we can take most of them with a grain of salt. There are tons of 'predictions' made by popular films that ultimately end up as nothing more than predictions. Star Trek and Star Wars have existed since the 1970's, yet we are not any closer to hyperspeed space travel (though Elon Musk certainly is trying hard). 

     These movies can also serve as a reminder and an illustration of what the future will look like if we're not careful. The choices we make as a society will determine whether we'll start living with our own Baymax, or whether we end up living through an episode of the Black Mirror series. (wng)



   2.    Translation by Google Translate

Memahami Masa Depan Melalui Bioskop

Film yang baru-baru ini dirilis, Ready Player One, telah menjual bioskop di seluruh dunia. Film ini memprediksi masa depan yang dekat di mana setiap orang telah meninggalkan realitas dan melarikan diri ke dunia realitas virtual. Sebagian besar popularitas film dapat dikreditkan ke sejarah panjang manusia yang mencoba memprediksi masa depan.

Individu yang lebih kreatif dari masyarakat kita secara historis memimpin jalan dalam membuat prediksi ini. Pada lingkup yang sempit, para penulis dan pelukis telah menciptakan dunia mereka sendiri, membangun realitas yang mungkin atau mungkin tidak memiliki tethers untuk kita sendiri. Di sinilah orang-orang seperti Star Wars, Star Trek, Lord of The Rings dan Dune datang. Para seniman lain telah mencoba untuk mengatasi masalah ini pada lingkup yang jauh lebih luas dan lebih realistis, merenungkan apa spesies manusia mungkin terlihat seperti 10 atau 20 tahun Menuju masa depan.

Banyak platform media telah digunakan untuk membayangkan seperti apa masa depan itu. Sebuah artikel Fast Company dari tahun 2012 menyoroti bagaimana kartu pos Prancis dari tahun 1910 secara akurat memprediksi teknologi yang ditemukan pada tahun 2000. Novel klasik George Orwell 1984 menginspirasi jutaan orang untuk lebih waspada terhadap Big Brother. Serial TV The Simpsons telah lama membuat prediksi satir yang telah menjadi kenyataan. Tetapi dari semua platform media yang digunakan untuk memprediksi masa depan, tidak ada yang begitu populer dan tidak banyak digunakan sebagai bioskop.

Lukisan-lukisan dan buku-buku yang meramalkan masa depan jauh lebih banyak daripada imajinasi. Buku memberikan penjelasan kesusastraan tentang peristiwa, tetapi tidak ada gambar untuk secara visual mendukungnya. Lukisan memberikan laporan visual tentang peristiwa, tetapi meninggalkan banyak pertanyaan "apa yang terjadi sesudahnya?".

Sinema menyerbu pikiran para pendengarnya, memberikan gambaran visual tentang seperti apa masa depan, meninggalkan sedikit imajinasi. Cerita jarang orang-orang dari satu individu, melainkan cerita masyarakat dan dunia mereka saat ini hidup. Ini memberikan perspektif tidak hanya ke dalam kehidupan para pahlawan, tetapi juga tentang orang-orang di sekitarnya.

Jadi bagaimana sebenarnya film "memprediksi" masa depan? Ada banyak narasi yang berputar-putar dalam budaya pop, mulai dari utopias teknologi, lahan kritis tandus, hingga masa depan yang tidak jauh berbeda dari masa kini.

Film animasi biasanya merupakan pendorong utama di balik prediksi masa depan yang positif. Meet the Robinsons, Big Hero 6 dan Astro Boy memberikan visi masa depan yang merupakan perpaduan utopia teknologi dan kota-kota besar yang berwarna-warni. Mesin waktu, transportasi tubular, dan rumah sakit berjalan yang licin, tidak diragukan lagi merupakan kemajuan teknologi yang diinginkan semua orang, hasil dari pandangan masa depan yang diakui optimis.

Di sisi lain spektrum, kami memiliki film yang memproyeksikan gambaran masa depan yang lebih tajam. Film-film ini biasanya berkisar pada munculnya teknologi hidup, kelaparan, atau matinya spesies manusia. Beberapa anggota penting dari grup ini adalah Blade Runner, franchise Mad Max, 2001: A Space Odyssey dan Interstellar. Dunia yang dibangun film-film ini sering dipenuhi dengan kejahatan dan kemiskinan. Interstellar and Mad Max mendasarkan cerita mereka pada kelangkaan makanan, sementara Blade Runner dan 2001: A Space Odyssey fokus pada peningkatan kecerdasan buatan. Ini juga menarik untuk dicatat bahwa kita memiliki pencilan seperti Wall-E, yang memprediksi kematian ras manusia dan dominasi robot mahluk, namun mengemasnya dengan cara yang ramah anak.

Mendekati tengah spektrum, kami memiliki prediksi yang realistis. Ini adalah film-film yang tidak terlalu optimistik atau pesimistik, lebih berfokus pada seberapa jauh masyarakat kita telah maju dan apa yang ada satu atau dua langkah ke depan.

Tetapi kelompok terakhir ini mungkin adalah kelompok film yang paling menarik di antara yang lain. Film-film ini menyebabkan ketakutan dan harapan yang paling, karena tempat mereka sebagian besar didasarkan pada realitas dan teknologi yang sudah ada sebelumnya. Lihat tidak lebih dari Spike Jonze's Her sebagai contoh. Dia mengisahkan kisah cinta antara seorang pria kesepian dan asisten virtualnya. Pada saat itu, Siri baru keluar selama tiga tahun, sementara Alexa dan Asisten Google bahkan belum ada. Saat itu, sepertinya dia sedikit tidak terbayangkan. Tapi sekarang? Trio asisten yang pintar telah mengambil dunia dengan badai, dan kami mengandalkan mereka untuk tugas-tugas sehari-hari. Kita telah semakin dekat dengan realitas-Nya.

Jadi apa yang harus kita lakukan dengan prediksi ini? Yah, kita dapat mengambil sebagian besar dari mereka dengan butiran garam. Ada banyak 'ramalan' yang dibuat oleh film-film populer yang pada akhirnya berakhir tidak lebih dari prediksi. Star Trek dan Star Wars sudah ada sejak tahun 1970-an, namun kita tidak lebih dekat dengan perjalanan luar angkasa hiperspeed (meskipun Elon Musk pasti sedang berusaha keras).

    Film-film ini juga dapat berfungsi sebagai pengingat dan ilustrasi seperti apa masa depan jika kita tidak berhati-hati. Pilihan yang kita buat sebagai masyarakat akan menentukan apakah kita akan mulai hidup dengan Baymax kita sendiri, atau apakah kita akhirnya hidup melalui episode dari seri Black Mirror. (wng)


 
   3.    My Translation

Memahami Masa Depan Melalui Film”

Film yang baru-baru ini dirilis, Ready Player One, telah menarik perhatian para pengunjung bioskop di seluruh dunia. Film ini memprediksi masa depan yang dekat di mana setiap orang telah meninggalkan realitas dan melarikan diri ke dunia realitas virtual. Sebagian besar popularitas film dapat dikreditkan ke sejarah panjang manusia yang mencoba memprediksi masa depan.

Individu yang lebih kreatif dari masyarakat kita secara historis memimpin jalan dalam membuat prediksi ini. Pada ruang lingkup yang sempit, para penulis dan pelukis telah menciptakan dunia mereka sendiri, membangun realitas yang mungkin atau mungkin tidak memiliki ikatan untuk kita sendiri. Di sinilah film-film seperti Star Wars, Star Trek, Lord of The Rings dan Dune muncul. Para seniman lain telah mencoba untuk mengatasi masalah ini pada ruang lingkup yang jauh lebih luas dan lebih realistis, merenungkan seperti apa manusia yang mungkin terlihat 10 atau 20 tahun kedepan.

Banyak platform media telah digunakan untuk membayangkan seperti apa masa depan itu. Sebuah artikel Fast Company dari tahun 2012 menyoroti bagaimana kartu pos Prancis dari tahun 1910 secara akurat memprediksi teknologi yang ditemukan pada tahun 2000. Novel klasik George Orwell 1984 menginspirasi jutaan orang untuk lebih waspada terhadap Big Brother. Serial TV The Simpsons telah lama membuat prediksi satir yang telah menjadi kenyataan. Tetapi dari semua platform media yang digunakan untuk memprediksi masa depan, tidak ada yang begitu populer dan tidak banyak digunakan sebagai film.

Lukisan-lukisan dan buku-buku yang meramalkan masa depan membutuhkan lebih banyak imajinasi. Buku memberikan penjelasan kesusastraan tentang peristiwa, tetapi tidak ada gambar untuk secara visual mendukungnya. Lukisan memberikan laporan visual tentang peristiwa, tetapi meninggalkan banyak pertanyaan "apa yang terjadi setelahnya?".

Film menyerbu pikiran para penontonnya, memberikan gambaran visual tentang seperti apa masa depan, sehingga kita tidak perlu membayangkannya. Cerita jarang orang-orang dari satu individu, melainkan cerita masyarakat dan dunia mereka saat ini hidup. Ini memberikan perspektif tidak hanya ke dalam kehidupan para pahlawan, tetapi juga tentang orang-orang di sekitarnya.

Jadi bagaimana sebenarnya film "memprediksi" masa depan? Ada banyak narasi yang berputar-putar dalam budaya pop, mulai dari utopias teknologi, lahan kritis tandus, hingga masa depan yang tidak jauh berbeda dari masa kini.

Film animasi biasanya merupakan pendorong utama di balik prediksi masa depan yang positif. Meet the Robinsons, Big Hero 6 dan Astro Boy memberikan visi masa depan yang merupakan perpaduan utopia teknologi dan kota-kota besar yang berwarna-warni. Mesin waktu, transportasi tubular, dan rumah sakit berjalan yang licin, tidak diragukan lagi merupakan kemajuan teknologi yang diinginkan semua orang, hasil dari pandangan masa depan yang diakui optimis.

Di sisi lain spektrum, kami memiliki film yang memproyeksikan gambaran masa depan yang lebih tajam. Film-film ini biasanya berkisar pada munculnya teknologi hidup, kelaparan, atau matinya spesies manusia. Beberapa anggota penting dari grup ini adalah Blade Runner, franchise Mad Max, 2001: A Space Odyssey dan Interstellar. Dunia yang dibangun film-film ini sering dipenuhi dengan kejahatan dan kemiskinan. Interstellar and Mad Max mendasarkan cerita mereka pada kelangkaan makanan, sementara Blade Runner dan 2001: A Space Odyssey fokus pada peningkatan kecerdasan buatan. Ini juga menarik untuk dicatat bahwa kita memiliki pencilan seperti Wall-E, yang memprediksi kematian ras manusia dan dominasi robot mahluk, namun mengemasnya dengan cara yang ramah anak.

Mendekati tengah spektrum, kami memiliki prediksi yang realistis. Ini adalah film-film yang tidak terlalu optimistik atau pesimistik, lebih berfokus pada seberapa jauh masyarakat kita telah maju dan apa yang ada satu atau dua langkah ke depan.

Tetapi kelompok terakhir ini mungkin adalah kelompok film yang paling menarik di antara yang lain. Film-film ini menyebabkan ketakutan dan harapan yang paling, karena tempat mereka sebagian besar didasarkan pada realitas dan teknologi yang sudah ada sebelumnya. Lihat tidak lebih dari Spike Jonze's Her sebagai contoh. Dia mengisahkan kisah cinta antara seorang pria kesepian dan asisten virtualnya. Pada saat itu, Siri baru keluar selama tiga tahun, sementara Alexa dan Asisten Google bahkan belum ada. Saat itu, sepertinya dia sedikit tidak terbayangkan. Tapi sekarang? Trio asisten yang pintar itu telah terkenal, dan kami mengandalkan mereka untuk tugas-tugas sehari-hari. Kita telah semakin dekat dengan realitas-Nya.

Jadi apa yang harus kita lakukan dengan prediksi ini? Yah, kita tidak perlu terlalu menganggapnya benar. Ada banyak 'ramalan' yang dibuat oleh film-film populer yang pada akhirnya berakhir tidak lebih dari prediksi. Star Trek dan Star Wars sudah ada sejak tahun 1970-an, namun kita tidak lebih dekat dengan perjalanan luar angkasa hiperspeed (meskipun Elon Musk pasti sedang berusaha keras).

Film-film ini juga dapat berfungsi sebagai pengingat dan ilustrasi seperti apa masa depan jika kita tidak berhati-hati. Pilihan yang kita buat sebagai masyarakat akan menentukan apakah kita akan mulai hidup dengan Baymax kita sendiri, atau apakah kita akhirnya hidup melalui episode dari seri Black Mirror. (wng)

Sabtu, 14 April 2018

Softskill 2 - A Differentiation of Translation's Output


Nama         : Wahyu Widya Lestari
NPM           : 1C614162
Kelas          : 4SA01

   1.    The Original Text

5 Tips Hemat Baterai dan Memori di Ponsel Android
Source : https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20170816151427-185-235188/5-tips-hemat-baterai-dan-memori-di-ponsel-android  

Jakarta, CNN Indonesia -- Pengguna smartphone lekat dengan masalah baterai atau memori penyimpanan yang cepat habis. Notifikasi, tingkat kecerahan layar, hingga koneksi nirkabel dituding jadi fitur yang bertanggung jawab menghabiskan baterai.

Sementara, beberapa aplikasi jadi biang kerok lekas habisnya memori pengguna. Hal ini karena aplikasi tersebut memakan memori lewat simpanan file dan cache mereka.

Spotify, Snapchat, dan Line jadi tiga aplikasi teratas yang paling memakan memori pengguna. Sementara Facebook, Instagram, dan Facebook Messenger adalah tiga dari lima aplikasi teratas yang memakan memori saat Android pertamakali diaktifkan. Demikian terungkap dari studi yang dilakukan Avast terhadap ponsel cerdas bersistem operasi Android.

Lantas, bagaimana agar ponsel hemat baterai dan memori? Avast memberi tips. 
Description: https://newrevive.detik.com/delivery/lg.php?bannerid=0&campaignid=0&zoneid=1551&loc=https%3A%2F%2Fwww.cnnindonesia.com%2Fteknologi%2F20170816151427-185-235188%2F5-tips-hemat-baterai-dan-memori-di-ponsel-android&cb=ae83cd7523
1. Batasi notifikasi.
Punya notifikasi memang nyaman atau malah jadi gangguan. Tapi terlalu banyak notifikasi memakan baterai, memperlambat kinerja, dan kuota. Untuk menghemat daya, pilih nyalakan notifikasi yang penting saja.

2. Batasi aplikasi yang memakan baterai dan performa.
Misalnya aplikasi yang tetap berjalan di latar belakang, punya interval pembaruan, menggunakan lokasi, dan notifikasi.

3. Kurangi memori
Aplikasi terus menghasilkan sampah yang memenuhi memori. Bersihkan file sementara (temporary) secara berkala. Hal ini bisa dipermudah dengan berbagai aplikasi yang membersihkan file ini secara otomatis.

4. Matikan Wi-Fi, Bluetooth, GPS
Koneksi nirkabel memakan baterai cukup besar. Pastikan WiFi, bluetooth, GPS, juga fitur tethering mati saat tak digunakan.

5. Redupkan layar
Layar biasanya memakan konsumsi baterai paling besar. Apalagi ponsel-ponsel anyar saat ini menggunakan layar besar dengan kecerahan warna luar biasa. Avast menyebut kinerja layar bisa memakan 80 persen konsumsi baterai. Jadi, ketika sedang tidak digunakan, baiknya turunkan kecerahan diangka 30-40 persen saja.


   2.    Translation By Google Translate

5 Tips Save Battery and Memory on Android Phone

Jakarta, CNN Indonesia - Smartphone users are sticking to battery problems or outdated storage memory. Notifications, screen brightness levels, to wireless connections are accused of being a responsible feature to drain the battery.

Meanwhile, some applications so culprit outflow of user memory. This is because the application takes up memory through their file and cache storage.

Spotify, Snapchat, and Line are the top three applications that consume the user's memory. While Facebook, Instagram, and Facebook Messenger are three of the top five apps that eat memory when Android is first turned on. Thus revealed from a study conducted Avast against smart phones bersistem Android operating system.

So, how to keep the phone battery saving and memory? Avast gives tips.

1. Limit the notification.
Have a notification is comfortable or even be a nuisance. But too many notifications eat up the battery, slow down performance, and quota. To save power, choose to turn on important notifications only.

2. Limit applications that consume battery and performance.
For example an app that keeps running in the background, has an update interval, uses location, and notifications.

3. Subtract the memory
Applications continue to generate garbage that meets memory. Periodically clean temporary files. This can be made easier with many applications that clean this file automatically.

4. Turn off Wi-Fi, Bluetooth, GPS
Wireless connection takes a large enough battery. Make sure WiFi, bluetooth, GPS, also features tethering off when not in use.

5. Dim the screen of the phone
The screen usually takes the largest battery consumption. Moreover, the latest mobile phones today use a large screen with exceptional color brightness. Avast calls the performance of the screen can take 80 percent of battery consumption. So, when not in use, it's good to lower the brightness of 30-40 percent.


   3.    My Translation

5 Tips of saving Battery and Memory on Android Phone

Jakarta, CNN Indonesia - Smartphone users are sticking to battery problems or rapidly depleted storage memory. Notifications, the levels of screen brightness, to wireless connections are accused of being a responsible feature to drain the battery.

Meanwhile, some applications become the main cause of the user memory’s outflow. This is because the application takes up memory through their file and cache storage.

Spotify, Snapchat, and Line are the top three applications that exhaust the user's memory. While Facebook, Instagram, and Facebook Messenger are three of the top five applications that eat memory when Android is first turned on. Thus revealed from a study conducted Avast against smart phones Android operating system.

So, how to keep the phone battery saving and memory? Avast will give some tips.

1. Limit the notification.
Have a notification is comfortable or even be a distraction. But too many notifications eat up the battery, slow down performance, and quota. To save the power of battery, you can choose to turn on important notifications only.

2. Limit the applications that consume battery and performance.
For example an application that keeps running in the background, has an update interval, uses location, and notifications.

3. Reduce memory
Applications continue to generate garbage that meets memory. Periodically clean temporary files. This can be made easier with many applications that clean this file automatically.

4. Turn off Wi-Fi, Bluetooth, GPS
Wireless connection takes a large enough battery. Make sure WiFi, bluetooth, GPS, also features tethering off when not in use.

5. Dim the screen
The screen usually takes the largest battery consumption. Moreover, the latest mobile phones today use a large screen with exceptional color brightness. Avast said the performance of the screen can take 80 percent of battery consumption. So, when not in use, it's good to lower the brightness of 30-40 percent.

Minggu, 18 Maret 2018

A Differentiation of Translation's Output

1. Artikel Asli
 

Indeed Bali has inexhaustible traditions and cultures. As carried out by Tuban customary village, Kuta, they perform a ritual handed down from ancestors through generations known as siat geni or fire war. This tradition is undertaken by two groups of customary youth club from two hamlets namely the Tuban Geria and Pesalakan in Tuban. They attack each other by using embers of coconut fiber. This magical action is performed as part of the grandiose ceremony at local Dalem Temple.
Implementation of this fire war tradition involves hundreds of youths in mutual attack action by throwing embers. It is held once a year and poses an obligatory ritual in a grandiose ceremony. Before the ritual begins, the fire war is first commenced with presentation of offerings in the form of food or small-scale offerings, by circumnavigating points of the compass. It is dedicated to bhuta kala coming from different directions that will attend the ritual.
Fire war ritual generally starts in the evening, where the youth club members from two hamlets has been assembled, namely the Tuban Geria and Pesalakan. Anyone can get involved in the devotional service or ngayah. However, it is not permitted to have revenge in this fire war. Abstinence in the fire war is that people are not allowed to take firewood from cemetery area.
A fire war is performed by throwing fire of coconut fibers. In this game, boys will mingle and the players throw each other or attack each other. Fire war is a sacred game or ritual. Community leaders are still closely supervising this ritual game. This game in particular does not have any standard rules. Sometimes the youths are playing in their own way namely by banging coconut fibers to the ones carried by other players so that sparks a fire like fireworks. This ritual symbolizes the psychical realm or thing of beyond human logic namely the bhuta kala that releases its power in the form of Ludra’s fire to be presented as devotion to Bhatara Dalem.
Besides, it also symbolizes supernatural forces believed to balance the environment, so that the great strength can be channeled into a positive force that is beneficial to natural balance of the physical and psychical realm.
Having performed the ritual in the fire war, all the players are given penglukatan (self-purification) and not allowed to keep any revenge. After the game finishes, all the participants getting involved in the games are saying prayers together to deities abiding at Dalem Temple for safety. Logically, this game can be considered to provide entertainment and a sense of integrity for supporting devotees or pengempon. Vivacity and brotherhood of both hamlets are getting stronger. This procession poses a system of belief that gives us an understanding to jointly maintain the balance of physical and psychical realms.



2. Hasil Terjemahan Menggunakan Google Translate
 
Tradisi Perang Api Tuban Melambangkan Kekuatan Ajaib

Memang Bali memiliki tradisi dan budaya yang tak ada habisnya. Seperti yang dilakukan oleh desa adat Tuban, Kuta, mereka melakukan ritual yang diturunkan dari nenek moyang dari generasi ke generasi yang dikenal dengan siat geni atau perang api. Tradisi ini dilakukan oleh dua kelompok klub pemuda adat dari dua dusun yaitu Tuban Geria dan Pesalakan di Tuban. Mereka menyerang satu sama lain dengan menggunakan bara serat kelapa. Aksi magis ini dilakukan sebagai bagian dari upacara mulianya di Pura Dalem setempat.
Pelaksanaan tradisi perang api ini melibatkan ratusan pemuda dalam aksi saling serang dengan cara melempar bara api. Acara ini diselenggarakan setahun sekali dan merupakan ritual wajib dalam upacara megah. Sebelum ritual dimulai, perang api pertama kali dimulai dengan penyajian persembahan berupa makanan atau persembahan berskala kecil, dengan titik-titik keliling kompas. Hal ini didedikasikan untuk bhuta kala yang datang dari berbagai arah yang akan menghadiri ritual tersebut.
Ritual api biasanya dimulai di malam hari, dimana anggota klub pemuda dari dua dusun tersebut telah dirakit, yaitu Tuban Geria dan Pesalakan. Siapapun bisa terlibat dalam ibadah kebaktian atau ngayah. Namun, tidak diizinkan melakukan balas dendam dalam perang api ini. Pantang dalam perang api adalah orang tidak diperbolehkan mengambil kayu bakar dari area pemakaman.
Sebuah perang api dilakukan dengan melemparkan api dari serat kelapa. Dalam game ini, anak laki-laki akan berbaur dan para pemain saling melempar satu sama lain atau saling menyerang. Perang api adalah permainan suci atau ritual. Tokoh masyarakat masih mengawasi dengan seksama permainan ritual ini. Game ini pada khususnya tidak memiliki aturan standar. Terkadang para pemuda bermain dengan cara mereka sendiri yaitu dengan menggedor serat kelapa ke yang dibawa oleh pemain lain sehingga memicu api seperti kembang api. Ritual ini melambangkan dunia psikis atau benda yang berada di luar logika manusia yaitu bhuta kala yang melepaskan kekuatannya dalam bentuk api Ludra untuk dipresentasikan sebagai pengabdian kepada Bhatara Dalem.
Selain itu, ia juga melambangkan kekuatan supranatural yang diyakini menyeimbangkan lingkungan, sehingga kekuatan besar bisa disalurkan menjadi kekuatan positif yang bermanfaat bagi keseimbangan alami alam fisik dan psikis.
Setelah melakukan ritual dalam perang api, semua pemain diberi penglukatan (self-purification) dan tidak diijinkan untuk melakukan balas dendam apapun. Setelah pertandingan selesai, semua peserta yang terlibat dalam permainan tersebut mengucapkan doa bersama kepada para dewa yang tinggal di Kuil Dalem untuk mendapatkan keamanan. Logikanya, game ini bisa dianggap memberikan hiburan dan rasa integritas untuk mendukung pemuja atau pengempon. Keimanan dan persaudaraan kedua dusun semakin kuat. Prosesi ini menghadirkan sistem kepercayaan yang memberi kita pemahaman untuk bersama-sama menjaga keseimbangan alam fisik dan psikis.


3. Hasil Terjemahan Versi Saya
 
Tradisi Perang Api di Tuban Melambangkan Kekuatan Ajaib

Bali memang memiliki tradisi dan budaya yang tak pernah ada habisnya. Seperti yang dilakukan oleh warga desa ada Tuban, Kuta, mereka menjalankan ritual yang diwariskan oleh nenek moyang mereka dari generasi ke generasi yang dikenal dengan siat geni atau perang api. Tradisi ini dilakukan oleh dua kelompok pemuda adat dari dua dusun yang bernama Tuban Geria dan Pesalakan. Mereka menyerang satu sama lain dengan menggunakan bara api dari serat kelapa. Aksi magis ini ditampilkan sebagai bagian dari upacara besar-besaran di Pura Dalem.
Pelaksanaan dari tradisi perang api ini melibatkan ratusan pemuda dalam aksi saling serang dengan cara melemparkan bara api. Acara ini diselenggarakan satu tahun sekali dan merupakan ritual wajib dari upacara besar-besaran ini. Sebelum ritual dimulai, pertama-tama perang api dimulai dengan penyajian persembahan berupa makanan atau persembahan-persembahan yang berskala kecil, dengan mengelilingi arah mata angin. Hal ini dipersembahkan untuk bhuta kala yang datang dari berbagai arah yang akan menghadiri ritual tersebut.
Biasanya ritual perang api dimulai pada malam hari, dimana anggota klub pemuda dari dua dusun yang bernama Tuban Geria dan Pesalakan telah dikumpulkan. Siapapun dapat terlibat dalam kebaktian keagamaan atau ngayah ini. Tetapi dalam perang api ini tidak diizinkan untuk membalas dendam. Pantangan yang ada dalam perang api ini adalah orang tidak diizinkan untuk mengambil kayu bakar dari area pemakaman.
Ritual perang api dilakukan dengan melemparkan api dari serat kelapa. Dalam permainan ini, anak laki-laki akan berkumpul dan para pemain akan melempar atau menyerang satu sama lain. Perang api adalah sebuah ritual atau permainan yang suci. Tokoh masyarakat akan tetap mengawasi dengan seksama permainan ritual ini. Pada umumnya permainan ini tidak memiliki aturan standar. Terkadang para pemuda bermain dengan cara mereka sendiri yaitu dengan memukulkan serat kelapa mereka ke serat kelapa yang dibawa oleh pemain lain sehingga mengeluarkan api seperti kembang api. Ritual ini melambangkan dunia psikis atau benda yang berada di luar logika manusia yaitu bhuta kala yang melepaskan kekuatannya dalam bentuk api Ludra untuk dipresentasikan sebagai pengabdian kepada Bhatara Dalem.
Selain itu, ritual ini juga melambangkan kekuatan supranatural yang diyakini menyeimbangkan lingkungan, sehingga kekuatan yang besar bisa disalurkan menjadi kekuatan positif yang bermanfaat bagi keseimbangan alami dari alam fisik.
Setelah melakukan ritual perang api semua pemain diberikan penglukatan (pemurnian diri) dan tidak diizinkan untuk melakukan pembalasan dendam apapun. Setelah permainan selesai, semua peserta yang terlibat dalam permainan akan memanjatkan doa bersama kepada para dewa yang tinggal di Kuil Dalem untuk memperoleh keamanan. Secara logika, permainan ini dianggap bisa memberikan hiburan dan rasa integritas untuk mendukung pemuja atau pengempon. Keimanan dan persaudaraan antar kedua dusuk akan semakin kuat. Prosesi ini merupakan sistem kepercayaan yang memberi kita pemahaman untuk bersama-sama menjaga keseimbangan alam fisik.